Lok Ayam Mati Kelapoan dalam Ladung Padi


PALI [Pali Post] – Peribahasa lokal tersebut berarti laksana seekor tikus yang mati kelaparan dalam gudang padi. Sangat tepat untuk menggambarkan keadaan warga PALI saat ini dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak bersubsidi, yang pada akhir-akhir ini begitu sulit didapatkan. Kalaupun ada, harus ditukar dengan nilai rupiah yang relatif mahal bagi rakyat menengah ke bawah.

PALI merupakan penghasil minyak terbanyak, khususnya di Kabupaten Muaraenim, dan di Provinsi Sumsel pada umumnya. Coba bayangkan, berapa ribu barel crude oil yang dihasilkan dari berbagai lokasi eksplorasi minyak di kawasan kita ini. Dan kita masih diliputi kecemasan untuk mengisi bahan bakar minyak demi pergi ke kebun esok hari?.

Ada sebuah pengalaman terkait dengan mahalnya BBM ; Saat dalam perjalanan menuju Pendopo awal bulan Juli ini, di antara Dusun Sebane Desa Panta Dewa dan Desa Sinar Dewa Kecamatan Talang Ubi, Pali Post bertemu dengan dua warga Desa Air Itam Kecamatan Penukal yang sudah masuk dalam kategori uzur, Mat [57] dan istrinya. Mat  menuntun sepeda motornya dengan diiringi istrinya yang membawa sebuah kantong besar warna hitam.

Bertemu mereka, sontak Pali Post berhenti dan bertanya, dan ternyata motor mereka kehabisan bahan bakar dari Desa Sinar Dewa tadi, sehingga terpaksa didorong. Lalu Pali Post pun bertanya ; kenapa tidak membeli bensin dari Sinar Dewa tadi?.

Jawaban mereka pun cukup mencabik-cabik hati ini, karena ternyata mereka tidak mempunyai cukup uang hanya untuk membeli seliter bensin, sebab saat ini bensin termurah dijual dengan bandrol harga Rp 8 ribu sampai dengan Rp 12 ribu, hampir di setiap pedagang eceran di kawasan PALI kita tercinta ini.

“Tadinya kami cukup mempunyai uang untuk biaya transport pulang dari tempat anak di Teluk Lubuk ke kediaman kami di Air Itam. Tapi di Proyek [Desa Karta Dewa.Red] tadi motor kami pecah ban, dan kata tukang bengkel sudah tidak bisa di tampal, sehingga harus ganti ban dalam. Dan kini hanya tersisa Rp 5 ribu saja. Kami tak berani membelikannya, karena sudah jelas kurang..” ujar pria yang mengaku bercucu lima ini tersenyum getir.

Pali Post pun hanya bisa tersenyum nanar, tak bisa berkata-kata, dengan mata berkaca-kaca.

Rencana mereka, nanti akan meminjam uang di seorang saudaranya di Desa Purun Kecamatan Penukal, untuk membeli bensin, sedang di Desa Sinar Dewa dan Panta Dewa ini ia tidak mempunyai kawan atau saudara, sehingga terpaksa harus terus menuntun motor jenis Astreanya yang juga sudah tampak seuzur usianya itu.

Akhirnya mereka disuruh menunggu, dan Pali Post pun meluncur ke Desa Sinar Dewa untuk membeli dua liter minyak bensin untuk mereka, dengan harga Rp 10 ribu per liter.

Pengalaman di atas benar-benar tak terlupakan, dan mungkin saja jadi salah satu kisah menyedihkan yang merupakan imbas dari mahalnya harga bensin di  kalangan pedagang eceran. Padahal di SPBU atau APMS harganya masih tetap berkisar Rp 4,5 ribu per liter, terlepas dari kemungkinan ada ‘uang ini-itu’ lainnya yang tidak jelas, yang dibebankan pada pembeli derigenan untuk menjual eceran.  Dengan alasan sukar didapatkan atau pembelian dibatasi, para pedagang eceran pun mengelak disalahkan atas mahalnya BBM di tangan mereka.

“Kami nyambut (membeli untuk dijual lagi.red) di SPBU dibatasi, bahkan kadang harus kucing-kucingan dengan polisi, sehingga wajar jika kelangkaan ini menyebabkan mahalnya harga, kami kan mau untung juga,” tutur seorang pedagang minyak eceran di Sebane Desa Panta Dewa, tak bersedia namanya dikorankan.

Atas problema ini, seperti dikutip dari sebuah media elektronik, PT Pertamina pun melalui Manajer Medianya, Wianda A. Pusponegoro, di Jakarta baru-baru ini mengeluarkan statement akan segera menindak SPBU yang nakal, sehingga berefek kelangkaan BBM di pasaran.

Tentu saja harapan-harapan masyarakat, agar harga BBM kembali stabil hendaknya bisa segera ditanggapi oleh pemerintah, sehingga imbasnya yang juga menyebabkan berbagai keperluan pokok rumah tangga ikut-ikutan meroket segera teratasi. Dan warga seperti Kakek Mat di atas tidak lagi mengalami kejadian serupa, bahkan bisa tersenyum sumringah berboncengan dengan sang istri tercinta. Semoga..?[703]

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s