Mustofa, Sang Pencari Sumbangan – Berkelana Demi Bangun Ponpes di Desanya


SIANG itu. Kamis (26/9), cuaca di kota Pendopo Kabupaten PALI begitu terik. Seperti biasa, pada jam-jam tersebut, rehat di sela kegiatan liputan, para kru koran ini berkumpul di markas redaksi, di Jalan Merdeka. Bercengkrama dan berbagi cerita, setelah bersama menyantap makan siang dengan menu sederhana.

Di tengah keasyikan  tersebut, tiba-tiba kami dikejutkan dengan salam dari seorang tamu. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh?”.Gambar

Seorang pria menjelang senja, memakai kemeja sedikit kusam, berkopiah, bertubuh kecil dengan langkah kaki yang pincang.

Di tangannya nampak sebuah map plastik berisi kertas-kertas. Sementara di pundak kirinya tergantung tas kecil yang nampak sudah bertambal jahitan di sana sini. Ia berdiri di depan pintu kantor PALI POST. “Wa’alaikum sallam..” kami pun menyahut.

Setelah kami persilahkan masuk. Tanpa ditanya, dengan lancar ia menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. Meminta sumbangan untuk pembangunan pondok pesantren Nurul Huda, di Desa Trans Tanding Marga Kecamatan Penukal Utara.

Jujur, saat itu kami sempat curiga. Jangan-jangan ini merupakan salah satu modus yang bersangkutan untuk mencari keuntungan pribadi. Tentu, ini merupakan praduga yang wajar. Mengingat pada kondisi saat ini, siapapun yang berniat jahat bisa saja menggunakan berbagai motif untuk meraup keuntungan semata.

Namun, perlahan kecurigaan kami pun pupus. Insting dan analisa seorang juru warta bekerja. Pak Mustofa, demikian namanya, kami ‘kuliti’ habis-habisan. Pria yang mengaku masih berumur 55 tahun itu pun bercerita. “Saya tidak ingat kapan saya lahir,nak. Kira-kira 55 tahunlah umur saya,” ujarnya. Meski dari kerut wajah, ia sesungguhnya nampak wajar berusia 60 tahun lebih.

Setelah meneguk air putih yang kami sediakan, ia memulai. Menurut pria yang berasal dari Madura ini, ia ditugaskan untuk mencari dana, demi pembangunan Pondok Pesantren bernama Nurul Huda, yang terletak di desanya; Trans Tanding Marga Kecamatan Penukal Utara. Desa yang mulai ia tempati, semenjak pergi dari tanah jawa, bertepatan dengan meletusnya Gunung Merapi kali ketiga.

Inisiatif tersebut berasal dari dirinya sendiri. “Demi ibadah kepada Allah SWT,” ia beralasan. Hal tersebut direstui oleh pimpinan ponpes ; Ky Irham Adi Masykuri SPdI serta panitia pembangunan.

Sedikit bercerita sejarah Ponpes Nurul Huda. Menurut Pak Mustofa, pada mulanya Ky Irham Adi Masykuri SPdI, adalah seorang  guru agama di sebuah sekolah menengah di Desa Prabu Menang Kecamatan Penukal Utara. Seringkali pria yang kini menjadi pimpinan ponpes tersebut, waktu itu mendapati betapa minimnya pengetahuan agama para siswanya. “Bahkan ada yang tidak tau lafal kalimat shahadat,” ungkap Pak Mustofa, mengutip alasan Irham waktu itu.

Maka, dengan tujuan untuk memberikan bekal ilmu agama yang cukup pada generasi muda, bermodal lahan tanah seluas 2,5 hektar warisan dari orangtuanya; H Muhamad Asan, Ky Irham Adi Masykuri pun memulai rencana mendirikan sebuah pondok pesantren.

Namun, tambah Pak Mustofa, minimnya dana mereka merupakan hambatan terbesar dalam merealisasikan rencana mulia tersebut. “Makanya, tidak ada jalan lain, kita harus terus mencari dana, untuk mewujudkan impian tersebut,” tandasnya.

Kini, Pak Mustofa yang mengaku hanya sendiri dalam mencari sumbangan di wilayah ini, sudah memasuki pencarian tahap kedua. Yang pertama, ia mengaku berjalan hingga ke Sekayu. Mendatangi dari rumah ke rumah, mengetuk pintu hati para dermawan. Selama 5 bulan tidak pulang. Baru pulang pada malam takbiran Idul Fitri beberapa waktu lalu.

“Kepergian saya yang pertama selama 5 bulan tidak pulang-pulang. Berkeliling terus, berjalan mencari tambahan dana untuk melanjutkan pembangunan ponpes tersebut. Alhamdullilah, terkumpul dana Rp10,750 ribu, dan sudah saya serahkan pada panitia pembangunan. Dari dana tersebut bangunan seluas 12×5 meter sudah bisa diselesaikan,” ungkapnya.

Kini, Pak Mustofa meninggalkan keluarga untuk kedua kalinya. Setelah pulang bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri pada kepergian yang pertama. Menurutnya ia sudah berjalan selama satu bulan ini, dan baru merencanakan akan pulang menjelang hari raya Idul Adha nanti.

“Saya suka sedih kalau mendengar anak saya yang paling bungsu menelepon saya. Ia bilang sudah rindu sama Bapak, dan menyuruh pulang ; ‘Pak, pulang pak..’ katanya,” urai pria beranak 4 ini tertunduk.

Istri pak Mustofa berasal dari Jokjakarta. Enipiati, namanya. Wanita ini cukup tegar dan ikhlas melepas suaminya dalam berjuang di jalan Allah. Buah cinta mereka empat orang, dua perempuan, dan dua laki-laki.

Anak yang sulung, adalah perempuan. Sudah menikah dan memberikan pak Mustofa 1 orang cucu. Sementara adiknya, dua masih sekolah dan yang bungsu berjenis kelamin laki-laki, masih berumur 4 tahun.

Untuk memenuhi nafkah sehari-hari, Pak Mustofa menawarkan jasa memijat. Sambil berkelana, ia kerap diminta warga yang ditemuinya untuk mengurut. Terapi, katanya. Dari sana ia memperoleh uang untuk makan sehari-hari, dan juga mengirimi keluarga di Desa Trans Tanding Marga.

“Saya tidak memasang tarif, nak. Terserah orang mau ngasih berapa. Tapi saya lama memijatnya, minimal 2 jam. Saya juga pernah memberi terapi warga yang menderita stroke di Desa Benuang. Alhamdullilah sekarang sudah sehat,” ujar Pak Mustofa tersenyum.

Selain itu, istri Pak Mustofa bekerja menyadap kebun karet milik mereka di belakang rumahnya, seluas 0,5 hektar. “Biasanya dapatlah getah 3 kg perharinya, nak” tuturnya.

Ketika ditanya tidur dimana ia selama dalam pengembaraan, Pak Mustofa mengaku biasa tidur dari masjid ke masjid. Lalu tidak takut uang yang didapat, diambil penjahat? “Allah satu, yang menjaga kita,” tegas pak Mustofa sembari telunjuknya mengacung ke atas.

Terpisah, Pimpinan Ponpes Nurul Huda; Ky Irham Adi Masykuri SPdI, dikonfimasi koran ini via ponsel nomor 085381508192, membenarkan telah memberi amanah pada Pak Mustofa untuk mencari dana, demi berlangsungnya penyelesaian bangunan ponpes mereka.

“Saat ini santri kami sudah berjumlah 86 tingkat Diniyah, 15 santri MTS, dan 32 tingkat PAUD. Sementara dana yang dibutuhkan sebanyak Rp529,840 juta. Sedangkan yang sudah ada sebanyak Rp181,750 juta. Termasuk bantuan dari Bupati Muara Enim ; Muzakir Sai Sohar saat kampanye pilkada kemaren sebesar Rp84,250 juta. Sehingga kami masih kurang dana sebesar Rp348,099 juta,” ujar ky Irham.

Ketika ditanya, apakah Pak Mustofa diberi honor atas kepergiannya dalam mencari sumbangan. “Kepergian Pak Mustofa atas keinginannya sendiri. Ia ikhlas katanya. Namun kami juga memperhatikan, jika keluarganya butuh, maka semampunya kami bantu,” urai Irham.

Sementara itu, menurut Pak Mustofa, tidak banyak orang yang mau menjadi sukarelawan seperti dirinya. Sebab tantangan dan rintangannya besar. Ia mengaku kerap sakit hati atas perlakuan dan ucapan warga yang ditemuinya. Padahal ia tidak pernah memaksa orang untuk beramal. “Jika tak bisa membantu, ya sudah,” katanya tersenyum getir.

Pernah, tambah Pak Mustofa, ia mendatangi sebuah rumah orang kaya. Rumahnya besar dan bagus. Mobilnya bersusun. Dan nampaknya ia seorang muslim. Namun saat dimohon bantuannya, ia menjawab ‘lagi buntu’, dan hanya memberi selembar uang seribuan.

“Ya Allah, ucapan adalah do’a. Saya tidak ambil gimana, diambil juga bagaimana. Seakan sungguh menghina. Tapi ndak apalah, syukur sudah membantu,” sesal Pak Mustofa.

Ironis memang. Indonesia adalah negara muslim yang besar. Mayoritas warganya adalah pemeluk agama Islam. Namun selalu saja. Saat ingin membangun tempat ibadah atau sejenisnya, dana adalah penghalang terbesar. Pernahkah Anda melihat ada penganut agama lain yang ingin membangun tempat ibadahnya, memasang cerok ikan di pinggir jalan sebagai wadah sumbangan. Atau bahkan mereka berkeliling seperti Pak Mustofa, mengharap bantuan dermawan??. Tidak pernah bukan?!.

Oleh karenanya, mari kita buka hati. Yakinlah akan keajaiban sedekah. Allah tidak akan pernah lalai dengan janji-janji-Nya. Mari saling menguatkan, dan bantu-membantu dalam kebaikan.

Pak Mustofa pun pamit. Sebelum meninggalkan Markas PALI POST, Pak Mustofa sempat memimpin do’a bersama kru koran ini. Ia berterima kasih sudah dibantu dan diterima dengan baik.

“Insya Allah diberikan kesuksesan, dan tercapai cita-cita kalian, nak,” ujar Pak Mustofa sambil bersalaman, disambut ucapan ‘amiin’ dari kami.

Dengan terseok-seok menyeret langkahnya yang pincang, Pak Mustofa melanjutkan perjalanannya. Tas berisi sarung sholat dan sajadah digantungkan di pundak kiri. Sementara tangan kanan menjinjing map plastik berisi proposal yang ditandatangani oleh pimpinan ponpes, dan sejumlah kades/lurah wilayah yang dimasukinya. “Selamat jalan Pak Mustofa, Semoga Allah meridhoi. Amiin!”.[JoSha]

One thought on “Mustofa, Sang Pencari Sumbangan – Berkelana Demi Bangun Ponpes di Desanya

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s